Sudaryono Benahi BGN, Ratusan Pegawai Diberhentikan hingga Dapur Bermasalah Disetop

oleh -14 Dilihat
banner 468x60
BAGIKAN

Mediasumutku.co.id | Jakarta Jumat 31 Juli 2026 – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, memulai langkah pembenahan internal dengan menindak pegawai yang tidak disiplin serta menghentikan operasional ratusan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau dapur Makan Bergizi Gratis yang dinilai bermasalah.

Langkah tersebut menjadi salah satu kebijakan awal Sudaryono setelah resmi menakhodai BGN. Mantan Wakil Menteri Pertanian itu menegaskan bahwa pembenahan dilakukan untuk memastikan seluruh unsur di lingkungan BGN menjalankan tugas sesuai aturan dan standar yang telah ditetapkan.

banner 336x280

“Kami mencoba untuk bersih-bersih, kami mencoba untuk kemudian yang melanggar kami berikan sanksi,” kata Sudaryono selepas rapat pimpinan BGN di kantor BGN, Jakarta.

Pembenahan tidak hanya menyasar pegawai berstatus aparatur sipil negara, tetapi juga pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja, pegawai non-ASN, hingga tenaga ahli.

Hingga Senin, 27 Juli 2026, BGN telah memberhentikan sebanyak 261 pegawai non-ASN. Jumlah tersebut terdiri atas 224 pegawai non-ASN dan 37 tenaga ahli yang dinilai melakukan pelanggaran atau tidak menunjukkan kedisiplinan dalam bekerja.

“Hari ini kami beri pengumuman bahwa per hari ini kami telah memberhentikan 261 pegawai non-ASN, yang terdiri dari 224 pegawai non-ASN dan 37 tenaga ahli,” ujar Sudaryono.

Penindakan juga dilakukan terhadap pegawai ASN dan PPPK. BGN menemukan sembilan pegawai yang diduga melakukan pelanggaran berat atau pelanggaran disiplin berat. Mereka kini sedang menjalani proses yang berpotensi berujung pada pemberhentian.

Baca juga:  Seluruh Pihak Siap Hadapi Revalidasi Geopark Kaldera Toba Oleh UNESCO

“Kami telah memproses ada temuan sembilan melakukan pelanggaran berat atau disiplin berat, ini adalah ASN dan PPPK, dan besar kemungkinan yang bersangkutan akan kami proses pemecatan,” ucap Sudaryono.

Selain itu, terdapat 39 ASN yang dinilai melakukan pelanggaran disiplin ringan. Mereka terancam mendapatkan sanksi administratif, penurunan jabatan, hingga pemindahan tempat tugas.

“Dan ditemukan 39 disiplin ringan yang kemudian akan kami mutasi, kami demosi, dan kami akan berikan sanksi administrasi maupun sanksi ringan,” kata dia.

Pembenahan BGN tidak berhenti pada persoalan kepegawaian. Sudaryono juga mengumumkan penghentian operasional secara permanen terhadap 833 dapur MBG yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

“Kami telah menemukan adanya 833 dapur yang kami suspend per hari ini,” ucap Sudaryono.

Ratusan dapur tersebut dihentikan karena dinilai tidak mampu memenuhi standar operasional yang ditetapkan BGN. Permasalahan yang ditemukan antara lain berkaitan dengan kebersihan, sanitasi, kualitas makanan, pengolahan limbah, serta risiko keracunan.

“Terkait higienis, sanitasi, keracunan, kemudian kualitas yang tidak baik, tidak memenuhi standar yang kita inginkan. Kemudian IPAL-nya (Instalasi Pengolahan Air Limbah),” jelasnya.

Baca juga:  BP Kaldera Toba Penuhi Rekomendasi UNESCO, Sekdaprov Sumut Optimis Dapat Kartu Hijau

Dari total 833 dapur yang dihentikan, sebanyak 98 dapur berada di wilayah Sumatera. Kemudian, 311 dapur tersebar di Jawa dan Madura, sedangkan 424 dapur lainnya berada di wilayah Kalimantan hingga Papua.

Menurut Sudaryono, para pengelola dapur sebelumnya telah diberikan kesempatan dan tenggat waktu untuk melakukan perbaikan. Namun, karena peringatan tersebut tidak ditindaklanjuti, BGN akhirnya menjatuhkan sanksi penghentian permanen.

Konsekuensinya, pengelola dapur yang telah dihentikan tidak lagi mendapatkan kompensasi maupun pembayaran insentif dari pemerintah.

“Dapur yang di-suspend secara permanen ini itu bukan kayak yang lalu, misalnya dulu kan di-suspend tetapi tetap dibayar, kalau ini sudah di-suspend tutup, enggak dibayar. Ini betul-betul adalah suspend karena pelanggaran,” kata dia.

Sudaryono menegaskan, BGN tidak akan ragu menindak SPPG lain apabila di kemudian hari ditemukan melakukan pelanggaran serupa. Pengelola dapur diminta memahami bahwa program MBG bukan hanya berorientasi pada jumlah makanan yang dibagikan, tetapi harus memastikan kebutuhan gizi penerima manfaat terpenuhi.

“Sekali lagi ini namanya Makan Bergizi Gratis, bukan makan enak gratis, bukan makan banyak gratis. Mencukupkan gizinya lah yang menjadi tolok ukurnya. Kami ingin menunya tersaji baik, gizinya terpenuhi, dan perputaran ekonomi lokal juga jalan,” tegas Sudaryono.Red

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.